Barang Bekas dan Barang Sederhana sebagai Media Pembelajaran

BARANG BEKAS DAN BARANG SEDERHANA

OLEH

Susanto SHI, S.AP.

(Kordinator Tata Usaha dan Guru Mata Pelajaran Tekinkom SMP Negeri 2 OKU,

juga Tutor Program S1 PGSD Pokjar Baturaja Ogan Komering Ulu)

Pendahuluan

Barang bekas dan barang sederhana merupakan solusi mengatasi kendala biaya dalam pengadaan media pembelajaran. Disini guru dituntut untuk kreatif untuk membuat dan mengembangkan sendiri media pembelajaran yang berasal dari barang bekas dan barang sederhana, dengan berpedoman kepada rambu-rambu berikut :

1. Gunakan barang bekas atau barang sederhana yang murah dan mudah didapat,

2. Media yang dibuat hendaklah yang bisa meningkatkan perhatian dan pemahaman siswa,

3. Bahan yang dikembangkan hendaklah yang bisa menciptakan siswa berpikir kritis, mengundang siswa selalu ingin bertanya, ingin tahu dan ingin mencari kebenaran.

4. Bahan yang digunakan hendaklah yang bisa merujuk kepada upaya mendorong kemampuan siswa untuk memahami dan mengingat secara tegas dan jelas materi pembelajaran yang disajikan,

5. Media yang dibuat harus mampu memberikan kebersamaan bagi siswa dengan kondisi yang menyenangkan dalam mengikuti pelajaran,

6. Siswa mencatat atau menulis segala hal yang ia dengar dan mengamati selama guru mempergunakan media ciptaannya  guna meningkatkan daya ingat siswa.

Dalam proses pembelajaran ini minimal ada 4 komponen yang ada dalam proses mendengarkan, yaitu:

- HEARING = Kemampuan mendengarkan guru dari setiap siswa pada waktu pembelajaran berlangsung,

- ATTENDING = Kemampuan fokus perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang disajikan,

- UNDERSTANDING = Kemampuan memahami siswa secara lebih seksama terhadap materi pelajaran yang diberikan,

- REMEMBERING = Kemampuan mengingat siswa mengenai materi pelajaran yang diterimanya

Media yang dikembangkan juga hendaknya dilengkapi dengan buku teks, hand-out, , tugas, lembar kerja, soal, dan lain-lain yang berhubungan.

Penggunaan media sederhana juga harus mempertimbangkan berbagai kendala antara lain :

a) Keterbatasan waktu yang tersedia dikaitkan dengan luasnya materi dan tujuan pembelajaran,

b) keterbatasan bahan sederhana yang dibutuhkan dan tidak ada penggantinya,

c) Ketidaktersediaan alat-alat yang akan digunakan membuat dan mengembangkan media,

d) Keterbatasan kemampuan guru dalam menggunakan komunikasi lisan,

e) Lingkungan belajar yang kurang memadai,

f) Keterbatasan perbendaharaan kata yang dikuasai siswa,

g) Latar belakang dan tingkat kemampuan siswa yang heterogen,

h) Banyaknya siswa yang harus dibimbing oleh seorang guru,

i) Tidak adanya teman sejawat yang akan dimintai bantuan teknis dalam pembuatan dan pengembangan media

Oleh karena itu seorang guru minimal harus memiliki 2 kompetensi yang terkait dengan penggunaan media sederhana, yaitu :

1) Kemampuan menyeleksi media dari bahan-bahan sederhana yang telah tersedia secara tepat dan relevan dengan program pelajaran,

2) Kemampuan untuk menyusun sendiri dan menggunakannya secara baik dan benar

Penetapan medianyapun minimal harus berdasarkan 5 hal, yaitu :

1) memiliki keterkaitan yang jelas antara tujuan dengan proses pembelajaran

2) materi yang tersaji di dalam media menyenangkan, memiliki daya tarik dan minat untuk dipelajari, dicoba dan dipraktekkan

3) berkaitan dengan kpentingan dan proses pembelajaran yang dilaksanakan

4) bahasa yang digunakan dalam media dan komunikasi lisan mudah difahami, runtut, sederhana, jelas, tegas dan terarah

5) terjangkau oleh kemampuan intelektual siswa

Adapun tujuan pembuatan media sederhana yaitu :

1) Membangun komunitas berbasis pendidikan kreatif

2) Mengembangkan berbagai alternatif media sederhana yang kreatif dan berkesinambungan sedemikian rupa sehingga mampu membantu anak didik tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang kritis, kraetif, mandiri dan peduli terhadap lingkungan

3) membangun jaringan kerja dalam upaya mengembangkan berbagai media alternatif yang kreatif, sederhana dan murah yang mandiri dan peduli terhadap lingkungan

Pemanfaatan Barang Bekas dan Barang Sederhana sebagai Media Pembelajaran

1. Sampah Kertas

a) Sampah kertas diolah menjadi bubur kertas lalu dibuat suatu bentuk baru sebagai media pembelajaran, misalnya bentuk wajah/topeng atau bentuk lainnya.

b) Sampah kertas yang masih baik dapat langsung dimanfaatkan untuk membuat barang keperluan baru seperti amplop surat umpamanya

c) Sampah kertas dapat diolah sedemikian rupa dengan keterampilan khusus dibuat berbagai bentuk barang sederhana sebagai media pembelajaran

2. Kaos kaki bekas

Kaos kaki bekas dapat dibentuk dan dihiasi sedemikian rupa sehingga menjadi bentuk boneka untuk sandiwara boneka atau bentuk lain yang dibutuhkan.

3. Magnet

a) Magnet dapat dibuat kompas dengan mengkombinasikannya dengan jarum, gabus, dan air dalam baskom (lihat BMP IDIK4403 hlm 5.20).

b) Membuat magnet buatan dengan mengkombinasikannya dengan peraltan lain (lihat BMP IDIK4403 hlm 5.21).

4. Berbagai barang sederhana untuk permainan, diantaranya :

- Permainan manipulatif untuk mengajarkan konsep bilangan, pengukuran dan sebagainya

- Permainan imajinatif untuk latihan pengembangan imajinasi dan kreasi siswa

- Permainan membaca, membentuk model bangunan, nyanyian, membentuk pasir, dan sebagainya.

Penutup

Ternyata sangat banyak bahan yang bisa dijadikan sebagai media pembelajaran jika guru mau kreatif, tentunya pihak penyelenggara pendidikan juga harus mensupport dengan dukungan yang riel.

RUJUKAN

Denny Setiawan, dkk., Komputer dan Media Pembelajaran, Edisi 1, Universitas Terbuka.

About these ads

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s